Pages

Wednesday, December 22, 2010

Kelapangan nikmat..


            Teringat sebuah cerita lama.. Entah, lupa darimana sumber cerita ini. Suatu hari hiduplah segelintir kera-kera yang tinggal di pohon. Mereka menghuni pohon-pohon yang masih kecil dan belum berbuah. Hari demi hari kera-kera hidup di pohon kecil melakukan aktivitas di sekitar homerange tersebut. Pagi, mengambil buah-buah yang ada di kawasan lain, dan sore hari menyimpan makanan untuk diberikan ke anak-anaknya. Kera-kera ini bekerja keras terhadap kehidupan anak-anaknya. Makanan-makanan tersedia dengan baik untuk perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya. Aktivitas kera-kera ini juga membawa dampak positif bagi pohon-pohon sekitar.
            Singkat cerita, kera-kera ini semakin besar begitu juga pohon yang berada di kawasan ini. Pohon yang tinggi dan besar dan berbuah banyak. Aktivitas kera-kera ini pun berada pada cabang-cabang pohon-pohon yang tinggi dan besar. Jelas memberi manfaat dan kemudahan bagi kera-kera ini. Kehidupan ini terkadang memberi celaka bagi sebagian kera-kera yang hidup dalam lingkungan pohon tersebut. Sebagian kera-kera yang berada di ketinggian senang dan merasa nyaman dengan kondisi yang sejuk dan nyaman, sehingga sebagian kera-kera tersebut jatuh. Kera-kera tersebut menikmati buah-buahan hingga kenyang, dihembus angin sepoi-sepoi. Kelapangan yang dinikmati oleh sebagian besar kera-kera tersebut tidak dapat termanfaatkan dengan baik untuk menghasilkan tantangan yang lebih besar lagi. Ujian yang berupa kenikmatan yang Allah berikan bisa jadi penguji seseorang untuk senantiasa ingat kepada pemberi nikmat. Kelapangan dalam waktu, kelapangan daam berbuat kebaikan di kelas, kelembagaan, dan sebagainya. Yang kedua, barang kali kemudahan yang kita nikmati merupakan hasil perjuangan orang-orang terdahulu sebelum kita. Kemudahan yang telah dibuka orang-orang terdahulu diraih dengan susah payah, jangan sampai di tangan kita menjadi rusak. Yang ketiga, bukan berarti kondisi kelapangan yang kita hadapi dalam berbuat kebaikan menunjukkan kondisi sukses yang final. Justru ada tantangan lain. Karena setiap masa atau generasi mendapat ujian dan masalahnya sendiri.

Tuesday, December 21, 2010

Sekilas Kondisi Lahan Gambut di indonesia

Indonesia memiliki potensi lahan gambut yang besar. Lahan gambut di Indonesia sebesar 27,06 juta hektar atau setara 12% total luas daratannya. Indonesia memiliki 83% lahan gambut dari seluruh Asia Tenggara. Bahkan, dari data statistik Tabel 1, luas lahan gambut di negara-negara di dunia, Indonesia menempai urutan nomor empat sebesar 17 juta hektar setelah Kanada, Uni Soviet, dan Amerika Serikat (Euroconsult 1984 dalam Noor 2001). Lahan gambut juga memiliki keuntungan yang bermanfaat bagi penyangga lingkungan, penghasil kayu, flora dan fauna serta penyerap karbon(Noor, 2001).
Namun, pemamfaatannya belum optimal. Hasil penelitian Bappenas-ADB menunjukkan bahwa pada tahun 1997, tidak kurang dari 2 juta hektar lahan gambut yang terbakar. Peristiwa kebakaran ini terjadi di tiap tahunnya. Hal serupa ditemukan pada penelitan CCFPI WI-IP terhadap lahan gambut Sumatera yang menunjukkan bahwa selama kurun waktu 12 tahun (1990 – 2002) telah terjadi pengurangan ketebalan (volume) gambut di pulau Sumatera yang setara dengan 3,47 milyar ton karbon (Wahyunto et.al , 2003).


Pembukaan lahan gambut untuk pertanian menimbulkan degradasi lingkungan. Eksploitasi lahan gambut dapat menimbulkan kekeringan pada lahan gambut. Kekeringan ini tidak akan kembali lagi pada awal mulanya. Seandainya dilakukan pembasahan kembali pada lahan gambut dapat menimbulkan tingkat kepekaan erosi yang tinggi. Selain itu, terjadi pengambangan dan penumpukan debu gambut di permukaan. Hal ini dapat menyebabkan terganggunya proses fotosintesis pada tanaman alga dan tanaman air lainnya. Selain itu juga, penumpukan ini menimbulkan ancaman bagi ikan kecil dan telur ikan (Noor, 2001).
Penyebab kerusakan lahan gambut paling besar terjadi pada pembukaan lahan dan kebakaran lahan. Dengan adanya reklamasi lahan gambut terdekomposisi lebih cepat daripada akumulasinya. Adanya gejala pengeringan yang tak balik dan penyusutan mampu menimbulkan lahan gambut yang kering. Kondisi ini yang menjadikan lahan gambut mudah terbakar. Lahan gambut yang sudah tebakar menimbulkan tingkat kemasaman yang tinggi. Kualitas tanah seperti ini yang meyebabkan lahan tidur. Lahan tidur ini menjadi tempat tumbuh bagi purun( Eleocharis dulcis). Dalam menjaga kualitas lahan perlu dilakukan upaya dan penangan yang khusus. Penanganan terhadap kebakaran kecil di lahan gambut menyebabkan perubahan teknologi budidaya dan kenaikan biaya usaha tani (Barchia, 2006)
Oleh karena itu, pemanfaatan lahan gambut yang tidak berorientasi prinsip lingkungan dan alam menimbulkan gejaladan ancaman ekologis. Perlu penerapan konsep pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Pengelolaan hutan yang berkelanjutan menempatkan aspek ekonomi tanpa menimbulkan kerugian apek ekologis dan sosial.

Friday, June 11, 2010

Antara Partisipasi dan Kebijakan Kehutanan


        Saat ini pemerintah telah berperan dalam pengembangan kebijakan yang menerapkan prinsip manajemen kolaboratif.  Prinsip yang dijalankan merupakan perwujudan pengembangan yang terjadi dalam pengelolaan masalah kehutanan. Masing-masing komponen baik pemerintah, masyarakat, maupun swasta memiliki peran dan kewenangan dalam penyelenggaran menuju Pelestarian Hasil Berkelanjutan.  Peran pemerintah tidak sepenuhnya mutlak. Ada sumbangsih dari masyarakat untuk ikut serta dalam pengelolaan dan pengawasan, hingga implementasinya.
Wajar jika dalam penerapan ini perlu adanya pengawasan dari masyarakat atau pihak lain yang terkait pelaksanaan kebijakan. Hal ini dikarenakan peraturan yang telah dibuat belum sepenuhnya berhasil.  Masalah illegal logging yang terjadi bahkan hingga saat ini belum ada penyelesaian yang tepat. Berbagai wacana telah digulirkan untuk menyelesaikannnya. Pemerintah berulang kali berulang kali membuat peraturan, walaupun masih bias menjalankan kebijakan kehutanan.
Landasan dasar melibatkan pilar-pilar kebijakan kehutanan yaitu sumber daya hutan, masyarakat, dan pemerintah. Masing-masing pilar berkoordinasi akan membentuk Sistem Ekonomi Politik Kehutanan. Koordinasi dari ketiga pilar tersebut belum cukup kuat. Jadi, dapat dikatakan bahwa dalam penyelesaian masalah kehutanan belum mencapai klimaks.
Permasalahan kehutanan semakin menglobal. Isu kehutanan semakin luas. Penyeleasaian masih biasa saja. Perbaikan menuju kualitas lingkungan hidup yang lebih baik menjadi harapan brersama. Perlu penjembatan yang mampu melakukan transformaatif kebijakan. Pemimpin lokal mampu menjadi penyelaras kebijakan kehutanan yang implementtaif. Bukan hanya pemimpin lokal yang implementatif saja, tetapi berpikiran global. Ini menjadi faktor pendukung yang mampu menjadi sumber yang kuat untuk masyarakat.
Pemikiran yang luas menjadi suatu hal pasti dimiliki. Ini merupakan kompetensi yang menonjol. Dalam dunia kehutanan hutan merupakan salah satu sumber daya kompleks. Hutan saling terkait satu dengan yang lain. Pengaruh manusia turut memberikan dampak yang besar pada sumber daya ini. Terlepas apakah itu positif atau negatif yang menjadi dorongan besar bahwa manusia sangat mendominnasi. Dominasi ini justru yang harus diperlakukan seadil-adilnya. Dalam artian bahwa manusia bertindak sesuai kearifan lokal. Mereka bertindak dalam upaya budaya-budaya yang melahirkan tradisi yang kental dengan alam. Ditambah lagi teknologi yang dapat mempermudah pelaksanaan yang lebih efektif. Kearifan lokal bukan tidak mau bersentuh dengan teknologi. Namun, dengan teknologi mampu ramah lingkungan. Kita tidak bisa mampu menolak arus perubahan teknologi. Ini menjadi salah satu kekuatan yang mendorong lebih baik.
Selanjutnnya, perhatian menuju pengelolaan hutan yang lebih baik adalah lahan  non hutan. Mengapa ini memberi pengaruh yang nyata? Tidak lain inilah yang menjadi isu yang sering tarik ulur antara satu dengan yang lain. Tarik ulur lahan hutan dengan penggunaan lahan lain menjadi hal yang sudah lama terjadi. Untuk itu butuh pemimpin lokal dalam kebutuhan ini. Analisa lahan yang berguna dan menerapkan win-win solution hingga sekarang sulit terealisasi. Agroforestry menjadi salah satu solusi yang perlu penanganan khusus. 
Hariadi Hariadi Kartodihardjo, staf pengajar pada Fakultas Kehutanan dan Program Pascasarja, IPB mengatakan dalam tulisannya bahwa kekaayaan hutan alam telah dikuras bertahu-tahun lebih menjadi ajang permainan politik-ekonomi yang tak terlihat bagi orang awam. Tidak lain, karena masih dibawah permukaan. Justru secara nyata peran kehutanan juga belum mendapat perhatian. Selama periode 1977-1998 hanya sekitar 2.5%.  Untuk itu perlu implementasi kebijakan yang mengandung bagian hal yang selalu di evaluasi dan digembor-grmborkan. Landasan yang tepat dalam mengatasi hal tesebut bagaimana menangani kebutuhan masyaraka secara ekonomi dengan memadukan kepentingan lingkungan, sehingga tercipta partisipasi aktif dari masyarakat sekitar hutan.

Refleksi Kejayaan Swasembada Beras

     Pangan menjadi kebutuhan bagi manusia. Kebutuhan pangan menajdi kebutuhan yang sangat strategis. Apalagi saat ini, pertumbuhan penduduk yang semakin besar juga harus diimbangi dengan ketersediaan pangan. Dalam teorinya, Robert Malthus mengemukakan bahwa pertumbuhan penduduk secara deret ukur dan pertumbuhan pangan menurut deret hitung. Artinya, pertumbuhan penduduk jauh lebih besar dari pada pertamban produktivitas pangan. Bahkan bagi mereka yang sependapat dengan teori tersebut sutu saat akan terjadi kelaparan tingkat tinggi. Terlepas dari hal yang masih menjadi diperdebatkan yang terpenting menjadi pemikiran bersama agar kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia terpenuhi dari produksi dalam negeri. Salah satu pangan yang penting yaitu beras. Beras tidak hanya menjadi komoditas strategis, tapi komoditas politis dan ekonomis. Beras kerap kali digunakan dalam pengambilan kebijakan dalam penetapan angka inflasi, penentuan ukuran kemiskinan.
      Beras memang menajdi sesuatu yang sangat penting. Bagi orang barat, mungkin sukar menegerti mengapa beras menajdi sangat pokok. Warga negara Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara yang baik nasi menajdi makanan yang pokok. Tiada sempurna kebutuhan makan tanpa makan nasi. Dapat dibayangkan seandainya suatu negara terbelenggu oleh kebutuhan beras? Sungguh ketergantungan ini membuat keberhasilan pemerintah semakin menurun.
     Keberhasilan yang terjadi pada tahun 1984 merupakan keberhasilan yang diraih karena kerja keras semua pihak. Ketersedian beras dalam negeri yang cukup disertai cadangan beras yang ada menjadi indicator dalam pencapaian swasembada beras tersebut. Salah satu komponen yang terkait dengan peningkatan swasembada beras adalah peran BULOG.Pemerintahan Soeharto tetap didasarkan atas pertanian rakyat, perekebunan yang berorientasi pada ekspor. Perkembangan iptek telah memajukan industri pertanian di Indonesia. Akan tetapi, hanya sebagian kecil dari rakyat Indonesia yang bekerja didalamnya.
    Permasalahan yang timbul dalam mencapai swasembada beras adalah permasalahan lahan garapan. Menurut Prof Donald Wilson, presiden keenam dari Pittsburg State University dalam bukunya yang berjudul Dari Era Pergolakan Menuju Swasembada mengatakan bahwa lahan garapan petani Indonesia sebagian besar luasnya hanya 2 hektar atau kurang, dan hanya sebagia kecil yang luasnya lebih dari 2 hektar. Justru ketika kita bandingkan dengan pertanian di Amerika jauh lebih luas dan memperkerjakan tenaga kerja cukup banyak.
    Pada awal repelita I (1968/69-1973/74) pemerintahan telah memberikan tekanan pada peningkatan produksi pertanian dengan target sebesar 47% dan beberapa target lain seperti peningkatan investasi pemerintah, program Keluarga Berencana. Sebagaian besar dari beberapa target telah tercapai. Namun, pada sector pertanian terpenuhi sebesar 25 %. Mulailah pada krisis beras yang yang terjadai pada tahun 1971. Tahun 1984 Soeharto telah menetapakan kebijakan yaitu Kebijakan yang ditempuh kemudian adalah menitikberatkan kepada usaha intensifikasi, dengan menaikkan produksi terutama produktivitas padi pada areal yang telah ada. Peningkatan produksi dilakukan dengan intensifikais masal dan bimbingan masal.
Pemerintah pun menecetak tenaga-tenaga penyuluh pertanian. Selanjutnya, tenaga kerja ini pun diberdayakan dalam Bimbingan Massal. Selain itu, kemudahan mendapatkan bibit unggul dari koperasi-koperasi. Koperasi pun menyediakan pupuk-pupuk kimia serta insektisida. Walaupun sekarang penggunaan bahan-bahan kimia semakin dikurangi dalam upaya pencegahan ikut berputarnya bahan kimia asing dalam bahan makanan.
    Pada masa pemerintahan Soeharto mengawali tumpuan pada sektor agraria. Selain itu mengeluarkan kebijakan yang bertumpu pada revolusi pangan. Bibit unggul pun diberikan, sehingga berdampak pada hasil panen padi. Sebelumnya petani panen padi hanya satu kali setahun, maka setelah adanya peniongkatan menajdi tiga kali panen. Momen bersejarah itu telah membalikkan image Indonesia sebagai pengimpor beras menjadi Negara yang mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri. Tercatat pada Departemen Pertanian pada tahun 1969 menghasilkan 12.2 juta ton, tetapi tahun 1984 menghasilkan beras sebesar 25.8 juta ton. Bahkan sebagai wujud rasa syukur, pemerintahan Soeharto memberikan bantuan sebesar 100.000 ton kepada negara yang membutuhkan bantuan pangan, khususnya negara-negara di Afrika.

Monday, April 19, 2010

Aksi-Aksi Kecil Lingkungan

Gemah ripah loh jinawi. Kekayaan indonesia terdiri dari sumber daya alam yang melimpah. Bentang alam yang melimpah dari Sabang sampai Merauke. Garis pantai yang luas dan bahan tambang yang melimpah serta keanekaragaman flora dan fauna. Semua itu menjadikan lingkungan menjadi asri dan nyaman. Bahkan, beberapa pulau daerah timur Indonesia tetap menjadi pemandangan alami yang menakjubkan. Namun, kondisi ini semakin menurun baik dari segi kualitas dan kuantitas. Ekosistem hutan mengalami konversi lahan pertanian. Sementara, ekosistem pertanian dirubah menjadi lahan pemukiman, industri, dan bangunan permanen lainnya tanpa analisis lingkungan.
Selain itu kita mengahadapi isu internasional yaitu perubahan iklim. Perubahan iklim yang merupakan isu utama saat ini, yang telah mendapat perhatian dari setiap negara, perusahaan dan masyarakat. Semua pihak sudah merasakan dampak dari gas emisi rumah kaca dan pemanasan global. Hal ini sudah menjadi langkah dan strategi konkret untuk menyelamatkan bumi. Berbagai cara dapat dilakukan melalui efisiensi energi, energi alternatif, konservasi hutan dan konsumsi ramah lingkungan. Berbagai sosialisasi telah berupaya dilakukan untuk perubahan mindset manfaat ekologis. Semua ide-ide besar sulit terlaksana tanpa adanya perubahan tingkat paling kecil, diri sendiri. Semua solusi harus dimulai dari diri sendiri, karena kekuatan bangsa merupakan hasil akumulasi dari individu-individu.
Program-program pemerintah, LSM, dan perusahaan-perusahaan merupakan sebagai perwujudan meningkatkan kualitas aspek ekologis. Program-program tersebut menjadi output agar masyarakat ikut berkontribusi di dalamnya.
Apa yang bisa kita lakukan sebagai goal peningkatan kualitas lingkungan. Satu hal yang sudah menjadi perilaku melalui kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Membuang sampah pada tempatnya bukanlah hal yang sulit. Ketika tidak ada tempat sampah, maka saya terbiasa untuk menggunakan kantong di tas ransel sebagai tempat sementara menampung sampah hingga menemukan tong sampah.
Hal lain yang perlu kita terapakan dalam asrama mahasiswa atau istilah umumnya kos-kosan dengan prinsip hemat energi. Hemat energi dapat kita lakukan dengan mematikan lampu yang tak berguna misal mematikan lampu kamar tidur yang kosong, lampu di kamar mandi, atau pun lampu dapur yang tidak digunakan. Hemat listrik lain yang penting misal hemat dalam penggunaan alat-alat elektronik.
Mahasiswa identik dengan buku, diktat fotocopi atau handout mata kuliah. Hal yang sudah saya terapkan satu semester ini melalui penggunaan kertas bekas sebagai catatan mata kuliah. Dengan memakai bagian belakang kertas yang masih bersih dan putih dapat dimanfaatkan sebagai bahan catatan. Ukuran kertas A4 saya bagi dua, dan menjadi catatan baik kuliah maupun praktikum. Tidak perlu malu untuk hal kecil yang terlihat sangat irit. Aksi kecil ini menjadi solusi konkret dalam mengatasi banyaknya kertas fotocopi yang menumpuk dan menghemat pengeluaran buku catatan. Saya rasa ini sangat bermanfaat untuk menulis catatan hasil-hasil rapat organisasi mahasiswa.
Satu hal yang menarik di Fakultas Kehutanan sudah menerapkan penggunaan laporan-laporan praktikum dari kertas bekas. Hampir sebagian besar mata kuliah telah menerapkan hal tersebut dan tidak menjadi masalah yang berat.
Kita melihat konsumsi mahasiswa cukup tinggi terutama makanan dan minuman. Konsumsi makanan dan minuman selalu menempatkan plastik sebagai kantong makanan atau minuman tersebut. Bayangkan ketika setiap hari satu mahasiswa menggunakan dan membuang plastik berkisar 4-7 kantong plastik. Jika kita akumulasikan satu kampus dengan jumlah mahasiswa sekitar 4000-5000. Berapa banyak sampah plastik yang ditampung selama satu minggu, bahkan satu bulan. Aksi kecil melalui penggunaan kantong/tas seperti tas ransel, tas jinjing dan lainnya yang berbahan non-plastik dan tidak sekali pakai menjadi solusi real. Ketika saya membeli barang kebutuhan sehari-hari di minimarket, warung atau waralaba, saya lebih memilih menolak kantong plastik dan menggunakan tas ransel. Walaupun, terkendala ketika membawa minuman yang mudah tumpah atau tidak ada tutup rapat.

Monday, February 8, 2010

Lisan


“Sesungguhnya lisan ini dapat membawaku kepada kehancuran” Abu Bakar Asshidiq

Lisan mampu membawa pada kehancuran. Entah disadari atau tidak keretakan hubungan dua pihak bermula dari lisan. Pembicaraan yang dilakukan dapat menimbulkan potensi konflik yang klimaks. Mulai dari lisan timbul benih-benih konflik.
Terkadang lisan mengikuti suasana hati. Bahkan kondisi in imampu merubah arah dan tujuan lisan. Alih-alih berbuat baik justru membawa dampak masalah pada diri sendiri atau orang lain. Satu lagi, kehalusan lisan bukan terletak pada asal suku atau daerah asal. Lisan terbentuk karena perilaku kita sendiri. Pembicaraan pada masing-masing suku hanya menggambarkan sekilas karakter berbicara. Selebihnya lisan tergantung kita yang mengontrolnya. Seorang Batak yang terbilang “keras” tetapi bagaimana lisan itu dilatarbelakangi tingkah laku individu itu sendiri. Apapun geografis kita yang terpenting pembicaraan kita selalu membawa mamfaat dan solutif.

Tuesday, January 12, 2010

I Corrupt All Corps


Korupsi, kejahatan luar biasa. Hongkong berada dalam kondisiyang seakan stabil, tapi telah mengalami kerusakan didalamnya. Kondisi ini terjadi karena korupsi telah berada pada level sistemik. Hampir semua institusi lekat dengan korupsi. Digambarkan, bahkan sebagai upaya mencegah kerusakan pada bangunan korupsi, kepolisian tidak segan untuk membungkam orang-orang yang tidak mau bekerja dalam sistem iblis ini. Orang-orang yang tidak bersalah dan dianggap sebagai lawan politik, sehingga menghalangi niat buruk ini diberikan hukuman pidana. Hukuman itu seakan dipaksakan. Selain itu, pihak yang tidak patuh pada “sistem” ini diteror dan dibunuh. Pembunuhan itu pun dibuat rekayasa yang baik.


Berawal dari keresahan untuk segera memberantas korupsi yang terjadi di Hongkong. Makin lama ini terjadi, maka kerugian Negara semakin besar. Bahkan, proses pelayanan publik berorientasi pada uang semata. Untuk itu, dibentulah ICAC (Independent Commision Against Corruption). Komisi yang dibentuk oleh pemerintahan Inggris pada tahun 1974. Namun, perjalanan ini tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Goncangan dan tekanan dari pihak yang tidak suka lembaga ini terus diluncurkan secara berjamaah. Sebagian besar anggota ICAC diteror dengan ancaman pembunuhan dan upaya membahayakan keluarga korban. Oleh seba itu, sebagian besar anggota ICAC mengundurkan diri.

Mulailah dengan inisiatif ICAC untuk merekrut beberapa orang dari pihak kepolisian. Setidaknya kepolisian memahami jelas peta korupsi. Sedikit demi sedikit kinerja lembaga ini mulai beranjak. Memulai dari penyidikan, penyelidikan, hinga penangkapan. Ketua ICAC menunjukkan idealisme bersama anggota-anggotanya untuk mulai membuka tabir korupsi. Kasus korupsi satu per satu mulai terbongkar dan diselesaikan. Sekitar 90% anggota kepolisian tertangkap pernah melakukan tindakan korupsi.

Dengan terbongkaranya kasus ini semakin berbuntut panjang. Anggota kepolisian yang terjerat korupsi sepakat membuat demonstrasi. Demonstrasi yang dilakukan diwarnai dengan perusakan sarana dan fasilitas kantor ICAC. Mereka menuntut ICAC segera dibubarkan. Dalam situasi yang semakin kacau Pemerintahan Inggris akhirnya membuat dua kebijakan. Harapannya kebijakan ini bisa mengamankan situasi tidak stabil. Kebijakan yang ditempuh berupa pembebasan bagi siapa saja anggota kepolisian yang korupsinya dibawah $ 50.000 dan korupsi yang dilakukan diatas tahun tertentu dibebaskan dari hukum pidana.

Pemutaran Film ini setidaknya telah memberikan inspirasi bagaimana pemeberantasan korupsi yang terjadi di Hongkong. Satu hal yang menarik, judul film ini ICAC yaitu I Corrupt All Corps. Sebuah gambaran bahwasanya korupsi yang terjadi di Hongkong sudah merambah pada semua institusi perusahaan.

Sebuah kondisi yang sama yang dihadapi Indonesia saat ini, November 2009. Korupsi sebagai extraordinary crime yang berada pada level yang sistemik. Hangat-hangatnya pembicaraan dan informasi luas tentang upaya kriminalisasi KPK. KPK hampir setipe dengan ICAC. Tapi akankah kejahatan korupsi yang mengjangkit di institusi peradilan dan lembaga pemerintahan bisa di tangani? Ataukah KPK bernasib hancur dilawan arus korupsi? Semua itu butuh dukungan semua elemen bangsa untuk Say No To Corruption.