Pages

Friday, June 11, 2010

Refleksi Kejayaan Swasembada Beras

     Pangan menjadi kebutuhan bagi manusia. Kebutuhan pangan menajdi kebutuhan yang sangat strategis. Apalagi saat ini, pertumbuhan penduduk yang semakin besar juga harus diimbangi dengan ketersediaan pangan. Dalam teorinya, Robert Malthus mengemukakan bahwa pertumbuhan penduduk secara deret ukur dan pertumbuhan pangan menurut deret hitung. Artinya, pertumbuhan penduduk jauh lebih besar dari pada pertamban produktivitas pangan. Bahkan bagi mereka yang sependapat dengan teori tersebut sutu saat akan terjadi kelaparan tingkat tinggi. Terlepas dari hal yang masih menjadi diperdebatkan yang terpenting menjadi pemikiran bersama agar kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia terpenuhi dari produksi dalam negeri. Salah satu pangan yang penting yaitu beras. Beras tidak hanya menjadi komoditas strategis, tapi komoditas politis dan ekonomis. Beras kerap kali digunakan dalam pengambilan kebijakan dalam penetapan angka inflasi, penentuan ukuran kemiskinan.
      Beras memang menajdi sesuatu yang sangat penting. Bagi orang barat, mungkin sukar menegerti mengapa beras menajdi sangat pokok. Warga negara Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara yang baik nasi menajdi makanan yang pokok. Tiada sempurna kebutuhan makan tanpa makan nasi. Dapat dibayangkan seandainya suatu negara terbelenggu oleh kebutuhan beras? Sungguh ketergantungan ini membuat keberhasilan pemerintah semakin menurun.
     Keberhasilan yang terjadi pada tahun 1984 merupakan keberhasilan yang diraih karena kerja keras semua pihak. Ketersedian beras dalam negeri yang cukup disertai cadangan beras yang ada menjadi indicator dalam pencapaian swasembada beras tersebut. Salah satu komponen yang terkait dengan peningkatan swasembada beras adalah peran BULOG.Pemerintahan Soeharto tetap didasarkan atas pertanian rakyat, perekebunan yang berorientasi pada ekspor. Perkembangan iptek telah memajukan industri pertanian di Indonesia. Akan tetapi, hanya sebagian kecil dari rakyat Indonesia yang bekerja didalamnya.
    Permasalahan yang timbul dalam mencapai swasembada beras adalah permasalahan lahan garapan. Menurut Prof Donald Wilson, presiden keenam dari Pittsburg State University dalam bukunya yang berjudul Dari Era Pergolakan Menuju Swasembada mengatakan bahwa lahan garapan petani Indonesia sebagian besar luasnya hanya 2 hektar atau kurang, dan hanya sebagia kecil yang luasnya lebih dari 2 hektar. Justru ketika kita bandingkan dengan pertanian di Amerika jauh lebih luas dan memperkerjakan tenaga kerja cukup banyak.
    Pada awal repelita I (1968/69-1973/74) pemerintahan telah memberikan tekanan pada peningkatan produksi pertanian dengan target sebesar 47% dan beberapa target lain seperti peningkatan investasi pemerintah, program Keluarga Berencana. Sebagaian besar dari beberapa target telah tercapai. Namun, pada sector pertanian terpenuhi sebesar 25 %. Mulailah pada krisis beras yang yang terjadai pada tahun 1971. Tahun 1984 Soeharto telah menetapakan kebijakan yaitu Kebijakan yang ditempuh kemudian adalah menitikberatkan kepada usaha intensifikasi, dengan menaikkan produksi terutama produktivitas padi pada areal yang telah ada. Peningkatan produksi dilakukan dengan intensifikais masal dan bimbingan masal.
Pemerintah pun menecetak tenaga-tenaga penyuluh pertanian. Selanjutnya, tenaga kerja ini pun diberdayakan dalam Bimbingan Massal. Selain itu, kemudahan mendapatkan bibit unggul dari koperasi-koperasi. Koperasi pun menyediakan pupuk-pupuk kimia serta insektisida. Walaupun sekarang penggunaan bahan-bahan kimia semakin dikurangi dalam upaya pencegahan ikut berputarnya bahan kimia asing dalam bahan makanan.
    Pada masa pemerintahan Soeharto mengawali tumpuan pada sektor agraria. Selain itu mengeluarkan kebijakan yang bertumpu pada revolusi pangan. Bibit unggul pun diberikan, sehingga berdampak pada hasil panen padi. Sebelumnya petani panen padi hanya satu kali setahun, maka setelah adanya peniongkatan menajdi tiga kali panen. Momen bersejarah itu telah membalikkan image Indonesia sebagai pengimpor beras menjadi Negara yang mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri. Tercatat pada Departemen Pertanian pada tahun 1969 menghasilkan 12.2 juta ton, tetapi tahun 1984 menghasilkan beras sebesar 25.8 juta ton. Bahkan sebagai wujud rasa syukur, pemerintahan Soeharto memberikan bantuan sebesar 100.000 ton kepada negara yang membutuhkan bantuan pangan, khususnya negara-negara di Afrika.

No comments:

Post a Comment